Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Realitas kehidupan umat manusia biasanya berkelompok. Ini terjadi sejak zaman pra aksara. Aristoteles menyatakan manusia adalah zoon politicon, tidak bisa hidup sendiri. Setiap manusia membutuhkan manusia yang lain. Membutuhkan bestie dalam kesehariannya.
Selain sebagi zoon politicon, manusia pun adalah entitas “Homo Homini Lupus” menurut Plautus. Bagi Plautus manusia bisa menjadi srigala bagi manusia lainnya. Ungkapan “Srigala berbulu domba” bisa terjadi dalam realitas keseharian kita.
Satu sisi manusia membutuhkan manusia yang lain, satu sisi manusia pun bisa menjadi “srigala” bagi manusia yang lainnya. Bukankah populer ungkapan “Musuh dalam selimut?” Teman atau bestie suatu saat bisa menjadi srigala yang gigi dan taringnya sangat tajam.
Plautus dan Aristoteles adalah cendikiawan yang lahir sebelum Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW. Lompatan pemikirannya telah memberi pencerahan pada umat manusia sebelum sejumlah nabi terlahir. Ia menjelaskan tentang realitas mental manusia yang unik, butuh teman tapi bisa menjadi srigala bagi temannya.
Budaya manusia pada umumnya bermental balas dendam atau membalas. Hukum balas dalam realitas sosial manusia begitu mengemuka. Ungkapan “Gigi bayar gigi, mata bayar mata, nyawa bayar nyawa” sangat populer, terutama dimasyarakat tradisional.
Nah bagaiman dengan kehidupan kita di zaman ini? Faktanya masih berlaku mentalitas “Hukum Balas”. Manusia pada umumnya berpikir “Kalau mereka baik, aku akan baik, kalau mereka tidak baik, aku pun tak mau baik pada mereka”. Ini mental standar manusia pada umumnya.
Manusia zaman ini _umumnya_ hanya baik pada bestie. Ada ungkapan “Tidak ada musuh yang benar, tidak ada besti yang salah”. Artinya masih ada disrelasi yang membuat objetivitas kebenaran pun ter_aborsi. Benar salah menjadi kabur, abu abu dan disimpangkan.
Padahal kebenaran adalah kebenaran, ketakbenaran adalah ketakbenaran. Termasuk permusuhan, konflik, peperangan dan balas dendam adalah bukan ajaran agama. Ajaran semua agama mengajak saling mencintai, berdamai, saling memaafkan dan hidup berdampingan penuh cinta.
Balas dendam dalam ajaran agama sejatinya tidak ada. Menarik pendapat KH Syaiful Karim. Ia mengatakan “Do’a terbaik adalah mendoakan orang orang yang tidak baik kepada kita”. Ia pun mengatakan “Apa istimewanya kita kalau membalas keburukan orang dengan keburukan, sama buruknya”.
Bukankah Nabi Muhammad SAW “mengajarkan” tidak membalas meludahi orang yang meludahinya? Bukan Nabi Isa AS “mengajarkan” tidak usah membalas orang yang menampar pipi, bahkan bila perlu berikan pipi satunya lagi. Artinya, tidak ada “balas membalas” kecuali membalas kebaikan.
KH Syaiful Karim mengatakan “Berbuat baik pada orang yang baik kepada kita tidak usah dibahas, tapi berbuat baik kepada orang yang tidak baik kepada kita perlu upaya luar biasa”. Manusia “berkelas” versi KH Syaiful Karim adalah _diantaranya_ manusia yang mampu berbuat sangat baik pada orang yang tidak baik pada kita.
Ada ungkapan dalam ajaran agama Islam yang mengatakan “Ada amalan yang lebih baik dari sholat, puasa, haji dan umrah”. Apa itu? Berbuat baik dalam bentuk mendamaikan orang berkonflik, membayar utang dan memperbaiki hubungan (merukunkan) antarmanusia.
Memperbaiki kerukunan hubungan sesama manusia adalah diantara amalan yang melebihi nilai sholat, puasa, umrah dan haji. Sholat adalah tiang agama Islam, kerukunan adalah tiang kehidupan sesama manusia. Kemanusiaan dalam bentuk cinta kasih, keadilan dan kesejahteraan bersama, di atas ritualitas semua agama.
KH Syaiful Karim secara substantif menjelaskan bahwa mendoakan orang yang tak baik pada kita adalah memperbaiki hubungan. Adab di atas ilmu. Hubungan baik, saling mencintai, mema’afkan dan memberi bantuan pada yang membutuhkan, di atas ilmu agama, agama apa pun. Adab _hubungan sesama manusia, saling memberi manfa’at_ di atas ilmu.
Nabi Shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah aku mengabarkan kalian amal yang lebih utama dari sholat, shaum dan sedekah? “Yaitu memperbaiki hubungan (sesama muslim). Karena rusaknya hubungan (sesama muslim) adalah pencukur (agama)” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Sahabat pembaca, kita semua selalu berdo’a untuk orang orang yang kita cintai. Bisakah kita mulai mendoakan orang orang, kelompok, bangsa, negara yang tidak baik versi kita? Bahkan seorang Budhis berdo’a “Semoga semua makhluk berbahagia, baik yang terlihat atau pun tak terlihat”. Do’a untuk semua makhluk Allah.
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!