Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Dalam pikiran dan kepala kita (umumnya) definisi ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) identik dengan anak terkendala hal fisik, padahal tidak mutlak demikian. Dalam pikiran kita (umumnya) anak ABK ada di SLB, padahal tidak demikian. Anak ABK jauh lebih banyak di sekolah regular, maka tidak heran semua sekolah reguler sebaiknya menjadi sekolah inklusif.
Setiap anak pada dasarnya adalah berkebutuhan khusus, maka pendekatan diferensiasi menjelaskan bahwa setiap anak punya unikasi. Setiap anak pada dasarnya difabel. Difabel adalah istilah yang berasal dari "differently able" (berkemampuan berbeda). Ini mungkin yang melahirkan Theory of Multiple Intelligences.
Ada ungkapan berikut “Anak Berbakat (Gifted/Talented): Adalah anak-anak dengan kemampuan kognitif yang jauh di atas rata-rata usia mereka, termasuk dalam spektrum ABK karena mereka membutuhkan kurikulum dan metode pengajaran yang disesuaikan untuk memaksimalkan potensi mereka”. ABK identik juga dengan anak berkemampuan khusus di atas rata rata.
Diksi ABK bukan stigmatik, melainkan diksi memuliakan anak sebagai subjek belajar dengan segala unikasinya. Bila ada ungkapan “Setiap anak adalah ABK” menjelaskan pula bahwa setiap anak adalah pribadi yang harus dilayani pula secara pribadi, tidak melulu klasikal atau kelompok.
Asesmen diagnostic yang dikenali dalam dunia layanan pendidikan pada dasarnya ingin mengetahui kebutuhan khusus anak (ABK). Agar setiap anak dapat dilayani lebih optimal sesuai kekhususannya. Lebih tepat memandang semua anak berkebutuhan khusus (ABK) dibanding memandang semua anak berkebutuhan sama
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!