Oleh Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Ustadz yang satu ini memang beda. Ia adalah seorang muslim yang punya perspektif tak sama dengan umumnya umat muslim. Ia adalah Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, sosok yang masa hidupnya memiliki pemikiran anti mainstream.
Termasuka saat Ia mendekati ajal, membuat rekaman video yang intinya ingin memberikan pesan pada umat muslim. Ia membawa pesan bahwa kematian bukan suatu hal yang menakutkan. Termasuk saat melepas nyawa, Ia mengajak umat muslim untuk tidak menambah seram.
Ia mengatakan “Alam Barzakh itu tidak mengerikan, tidak menakutkan, tidak menyakitkan”. Ia mengatakan “Bila Izrail datang memanggil, seluruh tubuh akan menggigil (ketakutan)? Tidak seperti itu”. Ia berusaha memberi sugesti positif, sekali pun pada kematian.
Ia menjelaskan secara fisik manusia terlihat menderita saat di rumah sakit karena berbagai alat medis menempel. Namun ruh dan jiwa itu bahagia. Ruh dan jiwa tidak menderita sebagaimana fisiknya. Ruh dan jiwa senyum, menuju cahaya dan alam_Nya.
Rekaman video dan da’wah menjelang ajal dari Ustadz Jazir ini memberi sebuah kekuatan, keikhlasan dan ketenangan bagi umat saat menjelang ajal. Umumnya para ustadz selalu berkisah tentang seremnya Malaikat Ijrail dan sakitnya dicabut nyawa.
"Alam Barzakh itu tidak mengerikan, tidak menakutkan dan tidak menyakitkan” adalah ungkapan yang lebih bisa diterima. Mengapa demikian? KH Syaiful Karim mengatakan, “Allah itu maha cinta, tidak mungkin Ia mau menyiksa dan menganiaya ciptaan_Nya”.
Prof. Dr. KH HM Rasjidi mengatakan “Kita lahir dari cinta_Nya, hidup bersama cinta_Nya, kembali kepada cinta_Nya”. Sang Kiyai menjelaskan bahwa kembali pada Ilahi adalah sebaik baiknya kembali.
Kembali terbaik bukan kembali menuju sungai yang mengalir, buah buahan, atau berkumpul bersama keluarga. Bukan kembali ke lokus tertentu atau ingin mendapatkan makhluk tertentu. Allah lah segalanya, bukan tempat atau makhluk, apa pun imajinasinya.
Sebagai umat beragama, jangan sampai kita _tak terasa, tak sadar_ “menduakan” Tuhan dengan ciptaan_Nya, apa pun itu. Fokus kita sebagai umat beragama hanya kepada_Nya, bukan selain_Nya. Hanya ingin Allah saja!
Kembali kepada_Nya adalah sebaik baiknya kembali. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un" sesungguhnya hanya kepada_Nya kita kembali. Jangan ingin kembali kepada selain_Nya.
Imajinasi dan narasi ke suatu tempat, setelah meninggal bisa jadi buah nafsu dan imajinasi yang menyesatkan. Bisa jadi kita berbuat baik dan beribadah hanya karena ingin masuk satu lokus terindah. Adakah yang lebih indah melebihi_Nya?
Mari hindari imajinasi keliru kita, jangan sampai melupakan_Nya hanya karena syahwat duniawi. Sebaik baiknya manusia yang bermanfaat pada sesama dan semesta. Sebaik baiknya kembali hanya kepada_Nya.
Kang Dedi Mulyadi (KDM) mengatakan, jangan sampai kita semua “Ka luhur teu sirungan, ka handap teu akaran”. Jangan sampai kita “marakayangan” tidak kembali pada Ilahi, ditolak bumi dan langit karena banyak dosa.
Seolah KDM mengatakan “Kita semua harus berbuah dan berakar”. Artinya kita harus memberi karya nyata (buah) dan peninggalan nyata bagi kehidupan manusia (akar). Di kampung akhirat ruh tak butuh apa pun, kecuali Ia. Ia segalanya.
KH Syaiful Karim, seolah Ia mengatakan, “Kita malu sama pohon pisang dan matahari, hanya hadir untuk memberi buah dan menyinari tanpa harap balas dan imbalan apa pun”. Kita? Serba ingin imbalan. Berbuatlah terbaik setiap hari bukan karena imbalan.
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!