Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Abu Marlo mengatakan, “Allah, Tuhan yang esa mengungkapkan tidak ada yang serupa dengan Aku”. Faktanya tidak ada segala hal selain dalam kuasa_Nya. Tentau saja semua di alam jagat raya ini berada dalam Ia. Tidak ada selain Ia di alam kehidupan semesta, maka tidak ada yang serupa dengan_Nya.
Semua dimensi dalam cahaya kuasa_Nya. Daun yang jatuh dan debu yang terbang tak terlihat dalam kuasa_Nya. Apalagi kita yang menerima ruh_Nya saat ditiupkan. Kita dalam kuasanya, kita dalam Ia, Ia dalam kita.
Ungkapan qolbun mukmin baetullah menjelaskan ada Allah dalam diri kita. Dalam qolbu kita lah Allah berada, bukan di arasy atau dilokus tertentu. Semua dalam Ia, Ia adalah semuanya. Kemana pun kita pergi, kita bersama_Nya.
Kemana pun kita pergi melekat bersama_Nya. Saat di toilet pun, kita bersama_Nya. Betapa “nikmat” Allah berikan kelancaran saat di toilet buang hajat. Nikmat luar biasa saat hajat yang tertahan, keluar dengan lancar. Qolbu yang memvibrasikan rasa syukur di toilet tersambung dengan_Nya.
Begitu pun saat di rumah sakit. Begitu banyak orang sadar dan introsfektif betapa mahalnya sehat. Saat berdoa di rumah sakit ingin sembuh _kata seorang mahasiswi_ jauh lebih serius dibanding berdoa di tempat suci. Mengapa? Karena sadar dan butuh sehat.
Betapa rumah sakit telah mendatangkan vibrasi syukur luar biasa atas kesembuhkan. Buang hajat di toilet, mendapat sehat di rumah sakit adalah hal psikologis yang luar biasa. Kalau kita tidak sembuh, buang hajat mampet, sungguh derita tiada tara.
Allah hadir di toilet, di rumah sakit, karena melakat dalam qolbu kita. Apa lagi di tempat yang kita anggap suci, misal di mesjid. Di mesjid begitu indah saat kita sholat atau rebahan karena lelah. Mesjid yang bersih, indah dan sehat menguatkan kedekatan kita kepada_Nya.
Toilet tempat kita membuang hajat, rumah sakit tempat kita “membuang” penyakit, mesjid tempat kita “membuang” dosa buah meditatif, introsfeksi dan menangis di atas sajadah. Mari kita tanggalkan segala hal negatif yang ada dalam diri kita, walau tak mudah.
KH Syaiful Karim mengatakan, “Saat kita berwudhu bukan untuk bersuci, kita ini tidak bisa suci karena wudhu, dalam tubuh kita masih ada kotoran air kencing, berak dan lainnya”. Wudhu adalah proses “membuang”, simbolik membersihkan segala yang tak baik dalam psikologi kita.
Buang dan pisahkan segala yang membuat kita lupa pada_Nya, mengabaikan_Nya dan menduakan_Nya. Saat sholat hanya kepada_Nya, tanpa ikatan pada selain kepada_Nya. Mata, hidung, telinga, tangan, kaki dan pikiran hanya kepada_Nya. Itulah simbolitas wudhu, bukan membersihkan kotoran fisik.
Toilet, rumah sakit dan mesjid sama sama dimensi untuk terus lebih dekat dan ingat kepada_Nya. Jangan sampai kita lupa dan teriak teriak takbir, padahal Ia berada dalam henning dan sunyinya qolbu kita, dan dimana pun kita berada. Ia melekat abdadi.
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!