Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Setelah mengumandangkan adzan duhur, sholat berjamaah bersama ratusan anak didik, ada yang berkelebat di hati. Apa itu? Tiada lain adalah “sapaan Tuhan” terkait peringatan hidup.
Sebagai manusia yang banyak khilap, dosa dan kesalahan, tentu saja peringatan dari Tuhan jangan kita abaikan. Apa peringatan itu? Peringatan itu adalah “Jangan ada “benda asing” dalam tubuh Mu”.
Apa maksud benda asing dalam tubuh kita itu. Tiada lain adalah hal hal yang berupa pikiran, perasaan dan getaran batin yang bukan rahman rahim. Dalam diri kita sejatinya hanya ada cinta, rahman rahim.
Selain cinta, rahman rahim adalah benda asing dalam diri yang harus kita keluarkan. Ketika Allah meniupkan ruh_Nya dalam awalun kehidupan kita, itulah “modal awal” ruh cinta.
Kita lahir dari cinta_Nya Allah yang maha meniupkan rahman rahim_Nya pada kita. Surat Al-Hijr, Surat Shaad dan Surat As-Sajdah menjelaskan tentang penciptaan kita yang tersambung dengan cinta_Nya.
Awal mula kehidupan kita “melekat” pada cahaya cinta_Nya. Waspada, setelah kita lahir ke dunia akan ada sejumlah “benda asing” yang menempel, melekat pada diri kita. Ini harus diwaspadai.
Pohon yang ada parasitnya, ada benda asing, ada gulma akan mati pelan pelan. Termasuk manusia yang ada tumor, benda asing di tubuh akan mati juga. Apakah kita rela bila ada “benda asing” dalam diri? Tentu tidak!
Bila ada benda asing dalam diri, maka kita akan mati juga. Mati secara mental spiritual dan mati secara material/fisik. Apa benda asing itu? Benda asing itu adalah hal selain rahman rahim, selain vibrasi cinta.
Iri dengki, gibah fitnah, menyerang sesama, anti memafkan, khianat dan hal asasinasi adalah “benda asing” yang sangat berbahaya. Berawal dari modal ruh rahman rahim_Nya, pertahankan. Jangan sampai kita kemasukan “benda asing”. Pastikan hanya ada cinta dalam diri!
Belajar lah pada Al Adawiyah. Ia sudah lulus diri. Tidak ada “benda asing” dalam dirinya. Bahkan Ia tidak ada benda asing dalam bentuk makhluk bernama Surga atau pun Neraka. Hanya Allah, Allah saja, cukup Allah dan cinta_Nya. Lainnya tiada.
Pepatah bijak mengatatakan “Jika kita mengejar bayangan diri, maka Ia akan terus menjauh dan menjauh, jika kita mengejar cahaya maka bayangan akan mengejar kita”. Dualitas yang tak sama. Kejarlah cahaya_Nya, “bayangan dunia” akan mengejar kita.
EN
ID