Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Kehidupan manusia begitu kompleks dan tidak ada yang selesai dihadapan manusia, demikan kata Prof. Dr. Drijarkara. Manusia adalah entitas yang unik dan menjadi subjek kajian bagi dirinya sendiri. Manusialah ciptaan Tuhan paling istimewa, tiada yang lain.
Manusia adalah makhluk yang punya akal dan rasa. Asbab akal dan rasa ini maka manusia menjadi satu satunya makhluk ciptaan Tuhan yang berbudaya. Manusia mengembangkan kebudayaan. Asbab berkebudayaan maka manusia bisa bertahan hidup dan melanjutkan keturunan.
Setiap kebudayaan manusia terkait dengan letak geografis, genealogis dan kemajuan IPTEKSnya. Orang gunung, orang pantai, orang gurun, turunan siapa, ras apa, kemajuan pengetahuan dan teknologi, akan memberi pengaruh kuat pada kebudayaan entitas manusia.
Semua keragaman, latar belakang dan sejarah entitas manusia akan memberi dampak pada perkembangan selanjutnya. Namun ada tiga variabel penting yang mesti melekat dalam kehidupan manusia. Apa itu? Tiada lain adalah cinta, kesadaran dan karya nyata.
Bila entitas manusia tanpa cinta, kesadaran dan karya nyata maka kualitas diri dan kebudayaannya akan bermasalah. Cinta harus diletakan di atas segalanya. Cinta di atas agama agama yang ada. Agama agama yang ada harus menguatkan cinta kasih.
Selanjutnya kesadaran harus mengendalikan pikiran dan apa pun yang dimiliki manusia. Termasuk agama yang dianut umat manusia harus dikendalikan oleh kesadaran. Bila tidak maka ceramah ceramah agama akan mendatangkan konflik dan saling merasa benar.
Pepatah kritis mengatakan “Ceramah agama tanpa kesadaran bisa menganggu pemeluk agama lainnya, ceramah kesadaran tidak ada satu pun yang terganggu”. Cinta dan kesadaran adalah energi universal yang dibutuhkan semua umat manusa, apa pun perbedaannya.
Terkait karya nyata. Apa pun jargon, dogma dan narasi yang dibangun umat manusia, tanpa karya nyata yang memberi manfaat pada kehidupan manusia hanyalah omon omon. Karya nyata adalah jawaban atas adanya cinta dan kesadaran dalam diri umat manusia. Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan karya nyata.
Cinta, kesadaran dan karya nyata tidak akan melahirkan konflik, peperangan, merasa paling hak dan saling mengkafirkan. Cinta, kesadaran dan karya nyata adalah ruh atau energi yang harus melekat pada entitas manusia. Hidayah bagi manusia terkait hadir dan tumbuhnya cinta, kesadaran serta karya nyata.
Allah, Tuhan yang maha esa itu maha cinta, maha sadar, maha karya. Allah, Tuhan yang esa, Tuhan semua umat manusia tidak beragama, Ia sumber cinta, sumber kesadaran dan sumber segala karya di alam semesta. Keberagamaan manusia menjadi tak bermakna tanpa cinta, kesadaran dan karya nyata.
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!